Jetty Sedyawan Si Jantung Hati Lintas Generasi
TEMPO Interaktif. - Ribut-ribut tentang maraknya peresepan obat paten ketimbang obat generik oleh para dokter belakangan ini menarik perhatian dokter Jetty Sedyawan, 58 tahun. Apalagi disinyalir bahwa fenomena ini dikaitkan dengan mafia obat yang melibatkan pabrik obat dan dokter.
Bagi ahli penyakit jantung dan pembuluh darah di Rumah Sakit Medistra, Jakarta, ini, kalau dokter bekerja dengan empati dan profesionalisme, hal yang dituduhkan itu tak mungkin terjadi. “Saya selalu ingatkan ke anak didik bahwa menjadi dokter harus mengasah sense empati,” ujar Jetty, yang ditemui di kantornya kemarin.
“Orang datang ke rumah sakit kan untuk minta tolong. Kalau kita sebagai dokter bertindak semaunya, termasuk saat memberikan obat dan solusi untuk penyakitnya, tanpa empati, bagaimana rasanya?”
Permasalahan obat bermerek dan obat generik, kata Jetty, seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, ada banyak kendala, misalnya, aturan yang belum jelas dari departemen terkait dan euforia dokter yang mungkin bermaksud memberi yang terbaik bagi pasiennya.
“Di sisi pasien, mereka pun harus kritis meminta serta memastikan obat yang bakal diberikan dokter,” ujar wanita berjilbab ini dengan semangat.
Nama dan prestasi wanita penyuka masakan tradisional ini di bidang kedokteran Indonesia sudah tidak diragukan lagi. Dia tercatat sebagai salah satu perempuan pakar jantung. Ia selama 20 tahun menyumbangkan waktu dan keahliannya di Yayasan Jantung Indonesia–terakhir menjabat Ketua Bidang Penerangan dan Penyuluhan Masyarakat.
[...]
















